Dunia Games

Japan-cyclopedia: 3 Alasan Kenapa Cewek Anime Remaja Cantik Sering Jadi Karakter Utama

Sering bertanya-tanya kenapa banyak anime yang memakai karakter cewek remaja sebagai karakter utama? Mari kita coba cari tahu alasannya di sini!

Kalau kamu sering menonton anime, pastinya kamu sering melihat kalau kartun Jepang ini nyaris selalu dipenuhi cewek-cewek anime yang cantik, menarik, dan di rentang usia SMA. Sebut saja Asuna dari Sword Art Online, Saber dan variasinya dari Fate, dan lain-lain. Bahkan banyak pula yang menjadikan mereka sebagai karakter utama seperti di K-ON, Love Live!, Violet Evergarden, Cardcaptor Sakura, Sailor Moon, Pop Team Epic, dan masih banyak lagi.

Walau biasanya karakter utama masih berwujud cowok tapi dia akan dikelilingi oleh sekumpulan cewek cantik itu tadi. Jarang-jarang ada anime yang hanya menceritakan petualangan sekumpulan pria. Sekalinya muncul antara yang memang dibuat untuk para cewek macam Free!, Yuri on Ice!!, Touken Ranbu atau bergenre komedi seperti Danshi Kokosei no Nichijou, Cromartie Highschool, dan Osomatsu-san.

Nah kali ini kita akan mencoba menyorot alasan mengapa karakter cewek -- terutama cewek-cewek remaja -- seringkali jadi pilihan menjadi karakter utama dalam anime. Teori ini mungkin tidak sepenuhnya benar, mungkin juga banyak salahnya. Namun pada kesempatan ini kita akan mencoba mencari benang merah dari hal-hal yang kita ketahui mengenai bagaimana budaya Jepang berpengaruh kepada karya seni dan storytelling dalam hiburan yang mereka ciptakan. Karenanya, mari kita coba tilik bersama-sama! 

1. Sosok Cewek Anime Remaja Sebagai Cerminan Masa Muda

madman.com.au/fanzone

Jika kamu merupakan seorang wibu-- maaf, penikmat segala hal berbau Jepang, pastinya kamu menyadari kalau sebagai produsen hiburan mereka memiliki semacam 'obsesi' dengan masa muda. Tidak hanya di anime, banyak pula serial TV dorama maupun film yang mengambil latar masa remaja bertema.

Genre hiburan bertema kehidupan remaja atau masa muda ini kemudian memiliki sebutan khusus, yakni 'seishun' (青春) atau dalam bahasa Indonesianya berarti 'masa muda.' Kanjinya sendiri memiliki makna penting dalam pengartian kata tersebut; di mana 青 berarti biru atau hijau (persamaan kata dua warna berbeda itu mungkin bisa jadi pembahasan untuk lain waktu), dengan 'hijau' sebagai istilah lain untuk 'amatir/awam' atau 'bersifat muda' sementara 春 berarti musim semi.

Ini juga alasan kenapa Guy terobsesi dengan masa muda. Sumber: Masashi Kishimoto/Shueisha/Studio Pierrot

Dan kurang-lebih dua kata itu memang sangat cocok untuk menggambarkan bagaimana budaya Jepang memandang masa remaja. Layaknya bunga sakura yang mekar di musim semi, usia pubertas merupakan hal indah yang hanya berlalu dengan sekejap, saat jiwa, pikiran, tubuh seorang anak muda mulai berkembang.

Pola pikir seishun itu kemungkinan juga datang dari budaya imperialistik dan militeristik Jepang yang terlihat dan bisa dirasakan oleh dunia sejak masa Perang Dunia II. Anak-anak muda diwajibkan berkontribusi pada upaya Kekaisaran untuk menyatukan Asia di bawah bendera matahari merah; laki-laki menjadi prajurit, perempuan menjadi pekerja pabrik.

Kalahnya mereka dan berakhirnya peperangan kemudian tidak menyurutkan seishun. Bahkan dalam buku Gender, Nation and State in Modern Japan (2014) yang ditulis oleh Andrea Germer, Vera Mackie, dan Ulrike Wöhr menyebutkan bahwa ketika Pasukan Sekutu menduduki Jepang dan melakukan survei untuk menilai tingkat kesediaan populasi Jepang untuk bertarung di akhir tahun 1945; mereka menemukan bahwa kalangan perempuan, terutama perempuan muda, dan anak-anak sekolah lah yang memiliki semangat juang paling tinggi!

Satelight

Maka, banyak 'keunikan' budaya Jepang dapat diduga berasal dari segala hal berbau seishun itu tadi. Hal-hal lucu/imut macam Hello Kitty, kesukaan mereka akan seragam sekolah, fashion lolita, seiyuu yang kerap bersuara cempreng demi memerankan anak-anak muda atau kecil, bahkan para idol dan gravure-nya.

Semangat seishun kontras dengan keseharian orang-orang dewasa yang sangat berat. Jelang lulus SMA, dituntut masuk universitas bergengsi, harus bersaing ketat dengan mengikuti bimbingan belajar sampai matahari menghilang, pulang bimbingan langsung mendekam di meja belajar.

Lulus kuliah, keseharian semakin parah. Dituntut masuk perusahaan bergengsi, dapat gaji di atas rata-rata, punya jejang karir yang aman. Berhasil masuk, waktu kerja sangat panjang melebihi jam kerja standar karena kultur yang tidak membolehkan pulang lebih dulu dari bos, kadang tidak bisa langsung pulang harus sering kumpul-kumpul dengan kolega sampai malam lagi-lagi karena kultur, keluarga menuntut "Kapan menikah?", kalau sudah menikah keluarga menuntut "Kapan punya anak?" (yang mana mirip di Indonesia juga sih), belum stres karena masalah internal perusahaan lainnya.

Dan keadaan semakin parah pula buat kaum perempuan. Jika tidak dibolehkan bekerja, maka dipaksa menikah. Namun saat mencapai usia tertentu, mereka dianggap sudah tidak 'layak' menikah; fenomena yang kemudian disebut sebagai 'Perempuan Kue Natal' atau 'Perempuan Mi Tahun Baru': Disebut perempuan kue Natal karena layaknya kue yang hari raya yang cuma dimakan saat Natal atau di atas tanggal 26 Desember, mereka yang sudah melewati usia 26 tahun dinilai telah melewati masa prima. Sama halnya dengan mi Tahun Baru yang dinikmati pada tanggal 31 Desember.

Bandai Namco/A-1 Pictures

Akhirnya tidak mengherankan kalau 'karoshi' alias 'kematian karena bekerja terlalu keras' yang mengacu pada sakit jantung dan stroke mendadak karena stres saat bekerja jadi istilah umum yang digunakan dalam bahasa sehari-hari di Jepang!

Nostalgia akan masa muda menjadi daya tarik tersendiri ketika dulu mereka sudah kelihatan cantik dan manis tanpa perlu mati-matian menjaga tubuh atau mengeluarkan uang banyak untuk kosmetik. Ketika belum harus memikirkan masa depan, bebas bisa pergi dan melakukan aktivitas apa saja. Ketika bel sekolah berbunyi langsung mengikuti kegiatan ekstrakulikuler asyik bersama teman-teman.

Ini juga merupakan alasan utama mengapa tema remaja dan sekolahan sangat sering digunakan dalam cerita-cerita manga, anime, dan dorama.

Baca Juga: >> 5 Tempat Populer dalam Anime yang Wajib Dikunjungi di Jepang

Apalagi alasan lain mengapa kaum hawa sering digunakan sebagai karakter utama anime? Yuk lanjut ke halaman 2!

Voucher Games

Free Fire
Mulai dari harga
Rp 2.500
Arena of Valor
Mulai dari harga
Rp 2.500
Mobile Legends
Mulai dari harga
Rp 1.500
ShellFire
Mulai dari harga
Rp 3.000
Garena Shell
Mulai dari harga
Rp 12.500

Komentar () Jadi yang pertama memberikan komentar!

Balasan untuk: {{ replied_comment.user.name }} {{ replied_comment.updatedAtForHumans }} Hapus

Silakan Login untuk menulis komentar

{{ r.user.name }} {{ r.updatedAtForHumans }}

{{ re.user.name }} {{ re.updatedAtForHumans }}