Review

[REVIEW] Kurang-Lebih: Avengers Infinity War, Awal dari 'Penutup' MCU yang Menggelegar!

Avengers Infinity War adalah puncak serial Marvel yang luar biasa! Tapi apa saja kelebihan dan kekurangannya? Tanpa spoiler, yuk kita bahas bersama!

Avengers Infinity War merupakan judul film dua bagian yang menjadi klimaks dari fase ketiga film-film Marvel; di mana konon kabarnya sejumlah karakter akan takluk dan tidak kembali lagi di tangan sang penjahat, Thanos, yang mengincar kekuatan dahsyat Infinity Stone untuk menghabisi setengah penduduk alam semesta!

Namun, mampukah Marvel Studios menggarap film yang mempunyai kualitas setara dengan kehebohan dan antusiasme penggemarnya? Menghadirkan episode awal memuaskan dari duologi film yang layak 'menutup' babak pertama petualangan panjang superhero Marvel selama 10 tahun lamanya? Mari simak ulasan film Avengers Infinity War Part I dan lihat apakah kamu memiliki pendapat yang serupa!

Tiga Kelebihan Avengers Infinity War:

1. Semua Komponen Film Menyatu dengan Baik

Marvel Studios

Pengikut setia Marvel Cinematic Universe tentu sudah kenal betul formula yang digunakan dalam film-film superhero ini; seru-seruan yang penuh dengan canda-tawa. Kadang hal itu bisa diseimbangkan dengan baik seperti pada Iron Man, Avengers 1, Ant-Man, Thor: Ragnarok, dan terutama Guardian of the Galaxy; tapi kadang bisa gagal total seperti Iron Man 2 dan Age of Ultron yang kebingungan mau membawa cerita dan nuansa macam apa.

Namun kali ini Avengers Infinity War tidak hanya mengemas adegan canda, aksi, dan dramatis dengan sekedar 'baik'; tapi mendekati 'sempurna'. Secara struktur agak unik karena adegannya terasa dipecah-pecah tapi semua momen yang tampil di layar lebar mampu menggugah emosi penonton di saat yang tepat tanpa harus membuat situasi menjadi canggung maupun merusak karakter atau jalan cerita.

2. Eskalasi Konflik yang Dinantikan Sejak Winter Soldier

Marvel Studios

Sejumlah film Marvel biasanya muncul hanya untuk memperkenalkan teman baru sekaligus musuh baru yang berencana menguasai hal besar memakai sebuah perangkat tapi kemudian mati begitu saja. Akan tetapi meski memiliki efek yang luar biasa besar, ancaman yang diberikan oleh Thanos dan kroni-kroninya terasa sangat personal kepada masing-masing superhero yang terlibat; sehingga menyajikan fokus konflik yang jelas dan memberi motivasi kuat bagi mereka semua demi menghentikan Thanos menjalankan rencana jahatnya.

Perbandingan yang terasa cukup cocok adalah seperti film Captain America: Winter Soldier di tahun 2014 laluWalau Captain America harus menghentikan rencana besar Hydra 'menguasai' populasi dunia, motivasi utamanya yang sangat pribadi adalah menolong Bucky dari cengkraman Hydra. Keseimbangan antara konflik skala besar dan mencakup banyak nyawa dengan masalah personal membuat kedua film menghasilkan konflik emosional, genting, tapi tetap mudah dipahami.

3. Karakterisasi yang Dalam

Marvel Studios

Terakhir dan paling mengesankan adalah bagaimana sutradara Anthony dan Joe Russo serta penulis naskah Christopher Markus dan Stephen McFeely mampu menyeimbangkan tujuh karakter utama bersama 14 karakter pendamping supaya mereka semua berperan besar dalam cerita. Berbeda dengan adegan pertempuran campur-aduk penuh guyon difilm Civil War yang malah terasa mengganggu keutuhan pergesekan pribadi yang dihadapi oleh Captain America, Bucky, dan Iron Man.

Selain itu mereka juga bisa mengadaptasi sifat Thanos yang luar biasa kejam dan dibutakan ambisi di versi komiknya menjadi sosok yang lebih 'manusiawi' -- ambisi tetap segalanya bagi Thanos, tapi berkat penggambaran motivasi yang jelas, penonton ikut terbawa suasana dan merasa ada pembenaran dari penyalahgunaan Infinity Gauntlet karena menganggap tindakannya tidak sepenuhnya salah. 

Baca Juga: >> Mengenal Black Order, Kaki Tangan Thanos yang akan Muncul dalam Avengers: Infinity War!

Namun bukan berarti film Avengers: Infinity War merupakan film sempurna yang tidak memiliki cela! Simak kekurangannya di halaman kedua!