Jejak: Perjalanan Karir Whitemon, Pemain Esports Terkaya di Indonesia
Siapa sih pemain esports terkaya di Indonesia? Apa benar Dota 2 adalah game yang bisa bikin pemain esports jadi kaya mendadak?
Dota 2 | 22 April
Oleh Ahda Muqarrabie
Siapa sih pemain esports terkaya di Indonesia? Apa benar Dota 2 adalah game yang bisa bikin pemain esports jadi kaya mendadak?
Dota 2 menjadi game yang digadang-gadang memiliki kejuaraan dunia yang megah dengan total hadiah yang fantastis. Game yang kompleks, penuh strategi dan menguras otak ini berhasil bikin penuh isi kantong para pemainnya lewat berbagai turnamen resmi yang diadakan oleh Valve.
Terbukti dengan dominasi pemain Dota 2 di deretan top 100 pemain esports terkaya di dunia, di mana dari 100 pemain ada 67 pemain Dota yang tercatat di sana. Notail, masih menduduki peringkat satu dengan penghasilan tertinggi yaitu USD 7,1 Juta Dollar atau sekitar Rp 123 Miliar.
Nah, Indonesia punya satu pemain yang tak kalah berprestasi di Dota 2 dan menghasilkan pundi-pundi kekayaan dari berbagai kejuaraan dunia. Ya, nggak salah lagi, dia adalah Whitemon, yang saat ini bermain untuk Tundra Esports.
Source: Esports Earnings
Whitemon saat ini tercatat sebagai pemain esports terkaya di Indonesia yang didapatkan dari hadiah turnamen Dota 2 sepanjang karirnya. Menurut data Esports Earnings, Whitemon telah mengumpulkan lebih dari 1 Juta USD atau sekitar Rp 18,4 Miliar.
Seperti apa perjuangan seorang Whitemon bisa meraih kekayaan yang fantastis dari esports dan mencatatkan prestasi gemilang di top tier esports Dota 2? Yuk, kita ulas lebih dalam di artikel berikut!
Jejak: Awal Perjalanan Karir Whitemon
Kalau kamu mengikuti scene Dota 2 Asia Pasifik, nama Matthew Filemon adalah sosok yang pelan tapi pasti naik ke puncak. Dia bukan tipe pemain yang selalu jadi sorotan karena flashy play, tapi justru dikenal karena ketenangan, disiplin, dan clutch moment yang sering datang di waktu paling krusial.
Matthew Filemon sudah mengawali perjalanannya sebagai gamers sejak duduk di bangku kelas 5 SD, sekitar tahun 2009. Artinya ia sudah memegang mouse dan map Dota sejak usia 9 tahun.
Dari sana jugalah drama tak mendapatkan restu dari orang tuanya dimulai. Seperti orang tua didikan VOC pada umumnya, Ia tidak mendapatkan restu orang tua berkarir di esports. Tapi inilah motivasi besar baginya untuk membuktikan diri.
Dan memang terbukti. Nama Matthew Filemon sekarang ada di deretan salah satu pemain support terbaik di dunia. Di balik jiwa support-nya yang tinggi, terdapat insting killer yang ia simpan dalam-dalam. Yap, role yang dipegang Whitemon ternyata awalnya adalah carry yang jagonya bukan main.
Dikutip dari esports.id, Whitemon menceritakan bahwa dirinya pernah menembus top 50 di leaderboard sebagai pemain carry. Namun, seiring berjalannya waktu, Whitemon bertransisi menjadi pemain support 5. Menurutnya, masa transisi dari carry menjadi support butuh pembiasaan diri sekitar setahun. Selama masa transisi ini ia terus mengikuti berbagai turnamen kecil di Bandung, sampai akhirnya bisa lolos ke Jakarta.
Penampilannya di main event Jakarta inilah yang bikin tim profesional pertama Whitemon terpukau. EVOS Esports yang melihat gaya bermain support-nya memutuskan untuk menarik Whitemon.
Namun itu bukan berarti berita bagus untuk Whitemon. Ia justru dihadapkan dengan konflik keluarga yang menentang keras keputusannya bergabung ke pro scene. Hingga akhirnya manajemen EVOS sampai harus turun tangan melakukan mediasi dengan orang tuanya untuk mendapatkan izin berkarir sebagai pemain Dota 2 dan meninggalkan pendidikan untuk sementara waktu.
Dari Mana Awal Nickname Whitemon?
Menggunakan nickname “Whitemon” bukanlah sekedar gimmick bagi Whitemon. Lagi-lagi ada kisah keluarga yang terlibat di sana, yaitu seorang dengan nickname "Blackmon", mantan pro player Dota 1.
Blackmon merupakan kakak kandung Matthew yang juga sempat berkarir sebagai pemain Dota 1. Dialah sosok yang menjadi panutan sekaligus orang yang memberi pengaruh besar terhadap awal karir Whitemon.
Ketika Matthew mulai belajar bermain Dota dari teman-teman kakaknya, ia ingin dikenal sebagai adik Blackmon. Lalu ia membuat variasi nama: mengganti "Black" dengan "White", dan lahirlah identitas "Whitemon".
Matthew mengaku tidak tahu persis kenapa kakaknya memakai nama "Blackmon". Sedangkan "Mon" diakui berasal dari nama belakang keluarga mereka, Filemon.
EVOS Jadi Titik Awal Perjalanan
EVOS adalah tim di mana Whitemon melangkah pertama kali sebagai pro player Dota 2 sebelum mendunia seperti sekarang. Tepatnya pada pertengahan tahun 2018, Whitemon bergabung dengan EVOS Esports yang dibelanya hingga September 2019
Bergabung dengan EVOS ternyata keputusan yang tepat. Whitemon mulai tampil di kejuaraan yang lebih tinggi, ia sempat meraih juara ProDotA Cup Southeast Asia #13 sampai lolos ke ESL One Hamburg 2018.
Setelah setahun bersama EVOS, Whitemon memutuskan “magang” ke Resurgence untuk main di DreamLeague Season 13 SEA Open Qualifier, sekaligus menjadi debut pertamanya bermain di tim luar Indonesia. Ini merupakan langkah penting bagi Whitemon hingga akhirnya bisa merapat ke Geek Fam dan T1.
Terobosan Besar dengan T1
BTS Pro Series Season 4 SEA menjadi turnamen pertama bagi Whitemon bersama T1. Ia berhasil membuktikan diri dan mengantarkan T1 juara tiga di kejuaraan tersebut. Hingga tepat pada 18 Januari 2021, T1 akhirnya mengumumkan Whitemon resmi bergabung dengan mereka untuk DPC SEA musim 2021.
Sebagai pemain posisi 5 (hard support), Whitemon memainkan peran penting dalam kesuksesan T1 di DPC SEA 2021 dan kualifikasi mereka untuk The International 10. Momen bersejarah itu tercipta di playoffs WePlay AniMajor di Kyiv, Ukraina, ketika T1 berhasil mengalahkan Team Aster 2-0.
Hasil itu membuahkan 300 poin DPC untuk T1 mengamankan slot ke TI 10, sekaligus menjadikan Whitemon dan Xepher mencatatkan sejarah sebagai pemain Dota 2 Indonesia pertama yang tampil di kejuaraan puncak Dota 2 tersebut.
T1 membuka potensi besar Whitemon lainnya. Ia juga mencetak rekor jumlah assist tertinggi dalam karirnya dengan 32 assist menggunakan Enigma di match melawan Execration pada DPC SEA Season 1 2021.
Perjalanan Dari NA ke Europe
Sejak berhasil mencetak banyak sejarah, prestasi Whitemon terus mengalir di kancah Internasional Dota 2. Dari sana, Whitemon melanjutkan karir ke TSM, organisasi esports raksasa yang bermarkas di California, Amerika Serikat.
Bermain untuk TSM artinya Whitemon harus berlaga di DPC NA, di sinilah kali pertama Whitemon merasakan persaingan di luar regional SEA. Alhasil, ia berhasil kembali lolos ke The International 2023, 2 kali berturut-turut menjuarai awal musim DPC NA 2023, sekaligus 2 turnamen Major dan 4 kali turnamen Internasional dalam satu tahun.
Sayangnya, cerita Whitemon bersama TSM harus ditutup dengan kabar yang kurang bagus. TSM tiba-tiba mengumumkan pembubaran divisi Dota2 pada akhir musim 2023. Pengumuman ini menyusul kabar perombakan besar-besaran yang dilakukan TSM di beberapa divisi mereka, seperti hengkang dari LCS League of Legends dan kejuaraan Rainbow Six.
Kegagalan kemitraan senilai $210 juta USD dengan perusahaan bursa kripto FTX dipercaya menyebabkan dampak finansial yang signifikan bagi TSM. Mau tidak mau, Whitemon di sini juga ikut terdampak dan harus keluar dari tim.
Para roster Dota 2 TSM pun kembali dengan Team Undying, nama yang sempat digunakan para roster TSM sebelum diakuisisi oleh TSM. Whitemon pun ikut memperkuat skuad ini ke turnamen Major, ESL One Kuala Lumpur 2023.
Di sinilah Whitemon menemukan perjalanan baru dari NA ke Europe. Yap, semua kebetulan ini terjadi dengan cepat dan mengejutkan. Di saat TSM membubarkan divisi Dota mereka, ada Tundra, tim juara TI 11 lalu, juga baru saja melepas para roster juara mereka.
Yang namanya jodoh memang tak kemana. Alhasil, Timado, Bryle, Kasane, Immersion, Whitemon, dan coach MoonMeander, berjodoh dengan Tundra tepat sehari sebelum ESL One Kuala Lumpur 2023 digelar.
Tundra yang bermain di region Europe memboyong semua pemain ini berlaga di Eropa menghadapi tim-tim raksasa seperti Gaimin Gladiators, Navi, hingga OG. Karena sistem Dota Pro Circuit telah resmi dihapus Valve untuk tahun 2024, Tundra akhirnya fokus ke turnamen third-party seperti ESL, PGL, BLAST, bahkan EWC, Riyadh Masters untuk persiapan menuju The International.
Di tahun pertamanya memperkuat Tundra (2024), Whitemon mulai tampil konsisten di papan atas kejuaraan Internasional, yaitu top 3 ESL One Birmingham, top 4 Riyadh Masters, runner up BetBoom Dacha Belgrade dan BLAST Slam I, bahkan finis di top 3 TI 13.
Asa untuk menjadi juara semakin tumbuh, keyakinan akan menaklukkan tim-tim kuat semakin terasa. Tepat di bulan Februari 2025, Whitemon akhirnya mengangkat 2 piala turnamen tier 1 sekaligus, yaitu di kejuaraan FISSURE PLAYGROUND 1 dan BLAST Slam II.
Sepanjang 2025, Whitemon mencatatkan prestasi yang benar-benar di luar ekspektasi. Bagi komunitas Dota 2 Indonesia, bahwa ada pemain Indonesia yang menjuarai turnamen BLAST Slam empat kali berturut-turut dan 3 kali runner up turnamen tier 1 dalam satu tahun itu bukanlah sesuatu yang gampang untuk didapatkan, dan bahkan tak pernah terbayangkan.
Sayangnya, di sisi lain cerita manis yang ditorehkannya sepanjang 2025, Whitemon juga terpaksa absen dari TI14 di Hamburg akibat masalah visa yang tidak terduga. Posisinya diisi stand-in Tobi Buchner. Sangat disayangkan jika mengingat Tundra adalah salah satu favorit juara musim itu.
2026, Misi Aegis of Champions
Hingga konten ini diproduksi pada April 2026, Whitemon telah mempersembahkan 2 gelar juara tier 1, yaitu piala DreamLeague Season 28 dan Major ESL One Birmingham 2026.
Melihat prestasi ini tentu saja dimanapun Tundra berada akan menjadi tim favorit juara di setiap turnamen yang akan mereka hadapi. Dengan nama-nama kuat di skuad Tundra, sepertinya ini adalah saat terbaik bagi Whitemon untuk menjadi orang Indonesia pertama yang berhasil mengangkat piala “Aegis of Champions”.
Secara usia, Whitemon kelahiran 22 Juli 2000 (25 tahun) terbilang masih muda dan memiliki waktu cukup panjang jika kita bandingkan dengan sosok seperti Insania, Sneyking, atau bahkan Puppey.
Menjaga konsistensi untuk terus berada di top tier hard support terbaik, konsisten di papan atas dan juara turnamen Major, hingga mengangkat Aegis adalah ujian terbesar bagi Whitemon.
Jika itu terwujud, Whitemon akan menjadi pemain yang berhasil menamatkan semua regional Dota 2, menjadi pemain Indonesia pertama yang menjuarai TI, dan menjadi legenda Dota 2 yang sesungguhnya.
Dari anak yang dilarang orangtua → pemain carry berbakat → bertransisi ke support → menjadi salah satu pemain hard support terbaik dunia → sampai akhirnya menjuarai turnamen-turnamen Dota 2 tier 1.
Cerita Whitemon bukanlah sekedar dongeng dan mimpi semata, tapi mengajarkan bagaimana konsistensi memperjuangkan mimpi itu menjadi nyata.
Kira-kira apa yang paling kamu kagum dari sosok Whitemon? Yuk, ceritakan di kolom komentar — dan tag teman main Dota kamu yang sering main bareng, ya!
Nantikan informasi-informasi menarik lainnya dan jangan lupa untuk ikuti Facebook dan Instagram Dunia Games ya. Kamu juga bisa dapatkan voucher game untuk Mobile Legends, Free Fire, Call of Duty Mobile dan banyak game lainnya dengan harga menarik hanya di Top-up Dunia Game.
Komentar ( 0 )
Please login to write a document.