Motivasi Juara M7 ONIC Sanz dan AE Nino Sangat Besar, Ini Alasannya
Juara M7 adalah mimpi dua tim Indonesia yang bermain nanti.
Mobile Legends | 09 January
Oleh DG Writer
M7 World Championship kembali menjadi panggung besar bagi para pemain terbaik Indonesia untuk mengejar mimpi tertinggi di Mobile Legends: Bang Bang. Setelah penantian panjang sejak gelar terakhir di M1, harapan publik kembali menguat seiring tampilnya wakil-wakil Tanah Air di kejuaraan dunia edisi ketujuh ini. Target Juara M7 pun menjadi ambisi yang tak lagi disembunyikan.
Di antara deretan nama yang akan tampil, ONIC Esports dan Alter Ego menjadi dua tim yang paling disorot. Keduanya tidak hanya membawa kekuatan roster, tetapi juga cerita personal dari pemain kunci yang menjadikan Juara M7 sebagai tujuan utama. Motivasi yang lahir dari faktor non-teknis justru menjadi bahan bakar penting di level kompetisi tertinggi.
Dua nama yang paling merepresentasikan semangat tersebut adalah SANZ dari ONIC Esports dan Nino dari Alter Ego. Meski sama-sama mengincar Juara M7, keduanya memiliki sumber motivasi yang berbeda, namun sama kuatnya. Perbedaan latar belakang inilah yang membuat kisah mereka menarik untuk disimak.
Menjelang dimulainya M7 di hadapan publik sendiri, cerita tentang perjuangan, tekanan, dan keyakinan kembali mencuat. Bagi SANZ dan Nino, Juara M7 bukan sekadar target turnamen, melainkan pembuktian atas perjalanan panjang yang telah mereka lalui di skena kompetitif MLBB.
Juara M7 Adalah Target Sanz dan Nino
Sebagai andalan ONIC Esports, SANZ telah lama menjadi simbol konsistensi dan mental juara. Sejak tampil di M3, M4, hingga M5, dirinya terus membawa ONIC ke level tertinggi, meski gelar juara dunia masih belum berhasil diraih. Kini, Juara M7 menjadi ambisi yang terasa semakin personal baginya.
Menariknya, motivasi terbesar SANZ justru datang dari luar panggung pertandingan. Keluarga menjadi sumber semangat yang tak pernah padam, terutama setelah ia memposisikan diri sebagai tulang punggung keluarga sejak usia muda. Tekad untuk membawa pulang Juara M7 tidak lepas dari tanggung jawab tersebut.
“Saya selalu ingat ‘saya datang ke Jakarta ini tujuannya untuk apa’. Jadi saya selalu teringat orang tua, bahwa saya ke Jakarta ini harus bawa hasil yang mewah lah buat keluarga. Ketika ingat keluarga, membuat saya ingin buktikan ke semua orang bahwa saya lebih baik dari siapa pun, bisa improve di setiap hari dan setiap turnamen, dan tidak cepat puas,” ujar SANZ.
Motivasi itu terus dijaga meski SANZ telah meraih banyak gelar domestik, termasuk tujuh trofi MPL ID dan satu MSC. Di saat banyak pemain lain mulai merasa puas, SANZ justru tetap lapar akan pencapaian tertinggi. Juara M7 menjadi satu-satunya kepingan yang belum melengkapi lemari prestasinya.
Perjalanan SANZ sendiri tidaklah instan. Ia merantau dari Makassar ke Jakarta pada usia 16 tahun dengan restu orang tua, memulai karier profesional bersama Victim Esports, hingga akhirnya direkrut ONIC. Dari fase sulit hingga menjadi tulang punggung tim, semua proses itu membentuk mentalitasnya dalam mengejar Juara M7.
Ambisi besar SANZ juga diakui oleh rekan setimnya, Kiboy. Sebagai pemain yang telah lama bersama SANZ, Kiboy melihat langsung bagaimana kerja keras dan rasa tidak puas itu terus menyala setiap musim, terutama ketika ONIC gagal mencapai target tertinggi.
“Bagi saya, Gilang itu pekerja keras banget dan konsisten dari dulu hingga sekarang. Terlihat jelas ambisi dia dari kerja keras itu. Ketika kalah, dia jadi salah satu orang yang paling kesal karena ingin menang terus,” ujar Kiboy.
Sementara itu, dari kubu Alter Ego, Nino datang dengan cerita yang berbeda namun tak kalah kuat. M7 menjadi kejuaraan dunia pertamanya sejak bergabung dengan Alter Ego pada 2021. Kepercayaan besar yang diberikan tim menjadikan Juara M7 sebagai panggung pembuktian paling penting dalam kariernya.
Performa Alter Ego yang naik-turun, ditambah perubahan role dari gold lane ke EXP lane, sempat membuat Nino berada di titik terendah. Namun justru dari situ, motivasi terbesarnya lahir: membalas kepercayaan yang terus diberikan kepadanya oleh tim dan manajemen.
“Selama sembilan season ini saya merasakan naik-turun. Pastinya stress, merasa tidak layak, sampai ingin berhenti. Tapi saya selalu dapat kesempatan dari Alter Ego, dan saya ingin membuktikan itu,” ungkap Nino.
Dukungan tersebut secara konsisten datang dari Delwyn Sukamto selaku pemilik Alter Ego. Bahkan di saat Nino meragukan dirinya sendiri, kepercayaan itu tidak pernah dicabut. Bagi Nino, kepercayaan tersebut adalah alasan utama untuk terus berjuang demi Juara M7.
Dengan latar motivasi yang berbeda, SANZ dan Nino kini berdiri di titik yang sama: mengejar gelar juara dunia di hadapan publik sendiri. M7 bukan hanya soal strategi dan mekanik, tetapi juga tentang mental dan keyakinan. Dan bagi ONIC Esports serta Alter Ego, Juara M7 adalah mimpi besar yang sedang mereka pertaruhkan sepenuh hati.
Nantikan informasi-informasi menarik lainnya dan jangan lupa untuk ikuti Facebook dan Instagram Dunia Games ya. Kamu juga bisa dapatkan voucher game untuk Mobile Legends, Free Fire, Call of Duty Mobile dan banyak game lainnya dengan harga menarik hanya di Top-up Dunia Game.
Komentar ( 0 )
Please login to write a document.