MPL ID S14 – 3 Fakta SaintDeLucaz, Pelatih Team Liquid ID yang Menggila di Season 1
Inilah profil SaintDeLucaz, pelatih Team Liquid ID yang mampu membawa timnya tampil menggila di MPL ID S14. Ini ulasannya!
Mobile Legends | 01 October
Oleh Imadudin R A
SaintDeLucaz adalah pelatih Team Liquid ID di MPL ID Season 14 yang berhasil membawa timnya tampil agresif dan konsisten di setiap pertandingan. Dengan pengalaman sebagai mantan pemain Dota 2, ia memiliki pengetahuan mendalam tentang strategi dan eksekusi permainan.
Kepemimpinannya yang visioner dan kemampuannya dalam mengasah bakat para pemain telah menjadikan Team Liquid ID sebagai salah satu tim yang disegani saat ini.
1. Jadi Pelatih Mobile Legends Usai Selesai Di Dota 2
Setelah berpisah dari BOOM Esports dan memutuskan untuk beristirahat dari skena kompetitif, nama SaintDeLucaz sempat menghilang. Namun, ia sebelumnya pernah bergabung dengan skuad RRQ di divisi Dota 2.
Berbeda dengan pemain lainnya yang langsung terjun ke Mobile Legends sebagai pemain atau pelatih, ia mengikuti ajang pencarian bakat Esports Star Indonesia dan meraih posisi runner-up.
Di awal 2020, para veteran Dota 2 seperti Facehugger, 2Hoi, Vlaicu, Aville, Yabyoo, SaintDeLucaz, dan Bubu berusaha membentuk tim untuk mengikuti MPL. Sayangnya, tim ini bubar di tengah jalan karena kesibukan masing-masing.
“Awal 2020, Aville mengajak saya pindah ke Mobile Legends. Kami sudah membentuk tim dengan mantan pemain Dota 2 lainnya, tapi harus bubar pertengahan tahun. Akhirnya, kami berpartisipasi dalam Esports Star Indonesia dan meraih juara kedua,” ungkapnya.
2. Titik Balik Kesuksesan Sebagai Pelatih
Meskipun berbeda game, SaintDeLucaz memilih berfokus sebagai pelatih MOBA ketimbang pemain, mengingat pengalamannya dan untuk memberi ruang bagi pemain muda.
Menjadi pelatih Aerowolf merupakan tantangan baru, terutama setelah posisi ini diisi oleh Acil. Meskipun awal musimnya sulit dengan banyak kekalahan, Aerowolf dipenuhi pemain veteran seperti Watt dan Kido, serta Clay, Fredo, Rinazmi, Marz, dan Bravo, yang memiliki kemampuan tinggi. Dengan strategi cermat, SaintDeLucaz berhasil menjadikan timnya kuda hitam, mengalahkan tim-tim unggulan seperti EVOS, ONIC, RRQ, dan Alter Ego.
3. Berkembang di Tengah Isu Negatif Esports
Sebelum perkembangan esports saat ini, industri ini seringkali mendapat stigma negatif karena dianggap hanya sebagai aktivitas bermain game. SaintDeLucaz pun tidak mendapatkan dukungan dari keluarganya, kecuali dari kakaknya.
Saat memasuki semester akhir kuliah, dia meminta izin untuk mengikuti turnamen di Pondok Gaming. Dengan uang seadanya, mantan pemain Dota 2 ini meninggalkan Bandung dan pergi ke Jakarta.
Setelah mengikuti turnamen, dia berhasil membuktikan bahwa esports bisa menghasilkan uang. Hadiah juara yang diraihnya diberikan kepada orang tua sebagai bukti, sambil meminta izin untuk bergabung dengan tim Pondok Gaming. Ia juga menjelaskan bahwa di sana ia akan mendapatkan gaji dan tempat tinggal.
Nantikan informasi seputar game lainnya dan jangan lupa untuk ikuti Facebook dan Instagram DuniaGames ya.
Kamu juga bisa beli voucher untuk Mobile Legends, Free Fire, Call of Duty Mobile dan banyak game lainnya dengan harga menarik hanya di Top-up Dunia Games!
Komentar ( 0 )
Please login to write a document.